Published on 12 September 2022, 16:04 by Try Adhi Bangsawan on Opinion
Geopark atau Taman Bumi merupakan wilayah geografis tunggal, atau gabungan
situs warisan geologi (Geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek Warisan
Geologi, Keragaman Geologi, Keanekaragaman, Hayati, dan Keragaman Budaya. Menurut
UNESCO, Geopark menjadi alternatif model pembangunan berkelanjutan yang
memadukan keragaman geologi, hayati, dan budaya, dan kesemuanya untuk kesejahteraan
rakyat.
Geopark memiliki semangat untuk perubahan paradigma pembangunan
dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, dari ekstraksi ke konservasi serta peningkatan
nilai tambah melalui pengembangan Geopark. Dan semangat ini berkaitan erat
dengan perubahan iklim yang terjadi di dunia.
Geopark
Bayah Dome
Pada Tahun 2019, pemerintah Kabupaten Lebak mulai berkosentrasi
pengembangan Geopark Bayah Dome. Kabupaten Lebak memiliki 28 Kecamatan, akan
tetapi lingkup wilayah perencanaan Geopark Bayah Dome terdapat di 14 Kecamatan.
Dengan Indikator keragaman Geologi, Hayati, dan Keragaman Budaya.
Berdasarkan karakterisitik Geologi, Geopark Bayah Dome mengangkat
empat sub-tema Kawasan secara geologi. Pertama, Endapan Delta Pura, Intrusi
Granodiorit, Mineralisasi Kubah Bayah, dan Zona Depreasi Citorek. Di Geopark
Bayah Dome sendiri, memiliki 32 Geosite yang sudah ditetapkan melalui keputusan
ESDM RI yang membagi ke dalam tiga tingkatan, 1 Site Internasional, 6 Site
Nasional, dan 25 Site Lokal.
Tidak saja warisan geologi, Geopark Bayah Dome memiliki warisan
Hayati dan Kultur yang sangat beragam. Warisan Hayati juga diperkuat dengan adanya
Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dengan Site Hutan Adat, Budidaya
dan Mangrove. Sedangkan warisan kultur (Cultural Diversity) di Geopar
Bayah Dome terbagai ke dalam empat jenis yaitu peninggalan masa pra sejarah,
peninggalan kerajaan nusantara, masyarakat hukum adat, dan peninggalan penjajahan
Belanda dan Jepang.
Keragaman Geologi, Hayati, dan Kultur yang dimiliki oleh Geopark
Bayah Dome memiliki dorongan optimisme, dengan visi Geopark Bayah Dome sebagai
destinasi wisata yang inklusif dan mendunia. Geopark Bayah Dome merupakan karunai
yang diberikan oleh Tuhan pada Kabupaten Lebak, tinggal bagaimana kita melihat
itu sebagai potensi yang musti dikembangkan dan ikon dari Kabupaten Lebak,
Banten bahkan mungkin Indonesia dimata dunia.
Peran
Pemuda
Disadari atau tidak, pengembangan Geopark erat kaitannya dengan
peran pemuda. Selain sebagai generasi penerus, Geopark musti dikenalkan sebagai
alternatif paradigma pemikiran pembangunan berkelanjutan masa depan. Semangat ini
musti menjadi kehendak semua orang terutama pemuda, lalu kemudian mewujud dalam
tindakan bersama.
Dalam konteks Geopark, kita mengenal ini dengan Geopark Youth
Forum. Wadah yang berisi anak-anak muda untuk menggaungkan soal Geopark kepada
anak-anak muda. Agar segala tujuan daripada Geopark ini tercapai.
Melihat perjalanannya, ide dan gagasan Geopark Bayah Dome bermuara
dari sekelompok pemuda yang berasal dari Lebak, yang berkuliah di Bogor jurusan
Geologi. Para pemuda ini, melihat bahwa warisan Geologi yang terdapat di
Kabupaten Lebak sangat mungkin dikembangkan menjadi Geopark, kita mengenal itu
sekarang dengan Geopark Bayah Dome.
Jadi sudah jelas, peran pemuda dalam pengembangan Geopark sangat
mutlak diperlukan. Sebab, tanpa generasi masa depan, cita-cita pembangunan
berkelanjutan hanya melayang-layang diudara saja. Selain itu, Geopark Youth
Forum bisa menjadi wahana anak-anak muda untuk mengenal segala potensi yang terkandung
di daerahnya itu sendiri.
Pembangunan
Berkelanjutan
Saat ini, seluruh Negara di dunia menitikberatkan perhatian pada perubahan
iklim yang sedang terjadi. Paradigma pembangunan ekstraksi mendapat koreksi
yang berdampak pada keadaan iklim dunia. oleh sebab itu, UNESCO mengatakan
bahwa Geopark menjadi alternatif pembangunan dengan semangat konservasi, bukan
lagi ekstraksi atau eksploitasi.
Tidak saja Negara sebagai aktor utama dalam isu perubahan iklim
hari ini, organisasi Internasional (non-Negara) juga memperhatikan soal ini,
di kutip dari website WorldBank.org pada Tahun 2009, mengingatkan negara-negara
berkembang untuk pembangunan yang rendah karbon. Dan untuk Negara-negara berpenghasilan
tinggi atau maju untuk bertindak cepat mengurangi gas rumah kaca, serta
mendorong sumber energi alternatif dalam mengatasi masalah iklim. Dalam World
Development Report 2010 di Copanhagen, menyatakan bahwa yang paling banyak
menyumbangkan emisi rumah kaca adalah negara-negara maju di masa lalu, ini dimulai
sejak Revolusi Industri abad-18 di Inggris, hingga hari ini.
Di Indonesia sendiri, pembangunan bercorak industri berlangsung
sejak tahun 70an. Pembangunan industri tadinya berlangsung di negara-negara
maju, kini mulai berkembang ke negara berkembang seperti Indonesia. Oleh karena
itu, pengembangan Geopark Bayah Dome, tidak saja sejalan dengan Visi dari
Bupati Lebak, tetapi juga Visi dunia dalam menghadapi perubahan iklim.
Walaupun, terbaru dalam laporan Global Gas Flaring Tracker Report 2022 oleh Global Gas
Flaring Reduction Partnership (GGFR) yang berada di bawah World Bank, mengurangi
pembakaran gas secara global jalan di tempat. Pada Tahun 2021, hampir 400juta
ton CO2, atau 144 miliar meter kubik pada tahun 2021. Menurut direktur Global
untuk Praktik Global Energi dan Ekstraktif World Bank Demetrios Papathanasiou,
bahwa perubahan iklim menjadi tantangan pembangunan yang menentukan pada zaman
ini.
Ulasan Kesimpulan
Seperti yang sudah dijabarkan
diatas, Geopark menjadi salah satu alternatif pembangunan dalam mengurangi masalah
perubahan iklim. Pun Geopark Bayah Dome , selain berangkat dari semangat pemuda Lebak,
ini menjadi dayung bersambut dengan Visi dari Bupati Kabupaten Lebak, juga
sejalan dengan visi dunia untuk mengurangi pembangunan yang berdampak pada
perubahan iklim.
Ini hanya bisa terjadi, bila
pemerintah daerah maupun nasional (Lebak dan Indonesia) serius dalam
merencanakan pembangunan jangka pendek dan panjang daerah. Sebab, RPJMD adalah
wujud nyata dari pemerintah untuk turut serta dalam mengentaskan masalah iklim.
Penyusunan arah pembangunan musti berangkat dari potensi lokal yang ada, Lebak
masih memiliki sumber daya alam yang melimpah, bila salah-salah urus ini akan
berdampak kerusakan iklim di Kabupaten Lebak.
Referensi:
http://web.worldbank.org/archive/website01363/WEB/0_-10558.HTM#
https://ekonomi.bisnis.com/read/20220507/620/1530653/world-bank-upaya-mengurangi-pembakaran-gas-global-jalan-di-tempat.