Published on 7 September 2022, 12:44 by Husein Adin Nurul Huda on News

Candi Arjuna (Sumber Gambar : Dokumen Pribadi,
Abu Tolip)
GAMBARAN UMUM
Kawasan Dataran Dieng terletak pada ketinggian 1.250 -
2.225 mdpl dengan bentang alam mayoritas dataran tinggi
memiliki topografi unik dan struktur geologi
serta batuan yang mayoritas dihasilkan oleh gunung api dan yang sering
disebut adalah kaldera. Secara geomorfologi, Dieng terbagi menjadi 2 satuan
geomorfologi yaitu satuan pegunungan
pada zona Serayu Utara yang berumur Tersier dan satuan dataran tinggi/ plato berada diantara barisan
gunungapi dan kerucut-kerucut soliter yang
sebagian besar ditempati oleh material vulkanik.
Kawasan Dieng yang berada antara 2.000 meter di atas
permukaan laut dikelilingi Gunung Prau dan sekelompok gunung api yakni Gunung
Pakuwadja, Gunung Kendi, dan Gunung Sipandu.
Bentuk lahan vulkanik yang ditandai dengan adanya morfologi-morfologi
vulkanik seperti kubah lava, kawah, perbukitan vulkanik dan dataran vulkanik.
Salah satu kubah lava yang terdapat di daerah penelitian yaitu Gunung Nagasari.
Menurut Channel (2010) Gunung Nagasari yang berada di Kecamatan Batur merupakan
kubah lava. Morfologi ini ditandai oleh bentuknya yang mengerucut, kontur rapat
dan pola aliran sungai radial.
Kawah sebagai depresi melingkar di permukaan tanah
banyak ditemukan di Kawasan Dieng seperti Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah
Candradimuka, Kawah Timbang. Curug sebagai
formasi geologi yang berasal dari arus air yang mengalir melewati suatu
formasi batuan yang mengalami erosi dan jatuh
dari ketinggian tertentu juga dapat terbentuk akibat aktivitas vulkanik khususnya material vulkanik. Beberapa curug
yang ada di daerah dataran tinggi Dieng diantaranya yakni Curug Sikarim, Curug
Sirawe, Curug Sigenting, dan Curug Merawu. Danau/ telaga yang terdapat di
Kawasan Dieng dapat terbentuk salah satunya oleh aktivitas vulkanik, Menurut
Van Bammelen (1949), daerah dataran tinggi Dieng merupakan daerah yang masuk
ke dalam cekungan Serayu Utara bagian
tengah yang memiliki stratigrafi dari tua ke muda secara berurut-urut yakni Lapisan Sigugur, Merawu,
Pengatan, Batu gamping dasar, Formasi Bodas,
Formasi Ligung, Formasi Jembangan dan Endapan Aluvial dan Vulkanik
Dieng. Sedangkan oleh Condon et.al (1996), bahwa daerah Dieng ini terdiri dari
sebelas satuan batuan dari yang muda ke yang tua.
PERUBAHAN IKLIM DAN ALIH FUNGSI LAHAN
Dataran Tinggi Dieng terlihat mengalami perubahan
lansekap dengan adanya pengenalan budidaya kentang yang terjadi pada tahun 1980.
Budidaya tanaman kentang mengubah kebiasaan dan ekonomi masyarakat Dieng yang
tadinya melakukan budidaya pada pertanian teh, tembakau, dan bunga pitrem. Lansekap
yang dapat dilihat secara langsung berhubungan dengan penggunaan lahan yang
dikelola oleh masyarakat seperti sumber daya air, lahan pertanian, dan luasan
hutan. Berdasarkan data, dataran tinggi dieng mengalami kerusakan yang sangat
mencemaskan. Kerusakan ini didukung oleh perubahan iklim yang tidak menentu
terutama kondisi curah hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan kejadian
longsor semakin tinggi. Pertambahan dan pergeseran pola bulan basah yang
terjadi sejak tahun 1990an sering terjadi hari hujan pada bulan Januari,
Februari, Maret, April, Oktober, November, dan Desember. Sedangkan bulan kering
terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September.

Pada musim musim bulan basah terjadi hari hujan yang
lebih besar dan pada bulan kering hari hujan cenderung berkurang. Kondisi
kontur yang miring mengakibatkan kejadian longsor di dieng tinggi pada musim
penghujan dan mengakibatkan dampak pada Kawasan di bawahnya. Sedangkan pada
musim kemarau masyarakat mengeluarkan biaya lebih untuk mengambil air dari
sumber air atau telaga untuk keperluan pertaniannya.
Perubahan iklim dari aspek peningkatan suhu tidak bisa
terlihat secara langsung di Dataran Tinggi Dieng yang mempunyai iklim sejuk. Berdasarkan
catatan BMKG stasiun Kaliunjar-Banjarnegara diketahui suhu rata rata maksimal
hingga 17oC dan suhu terendah mencapai -2oC. Kejadian
yang sangat terlihat yaitu berkaitan dengan terjadinya iklim ekstrem sejak
tahun 2007 dimana musim hujan memiliki curah hujan yang lebih deras dan musim
kemarau yang lebih kering, serta terjadinya frost atau kristal krital
embun es di pagi hari pada sekitar bulan Juli-Agustus yang sering disebut “embun
upas” oleh masyarakat setempat. Luas tutupan lahan hijau berkurang secara
signifikan di Dataran Tinggi Dieng mengakibatkan kemampuan area tangkapan air
juga berkurang. Kawasan hijau di Dataran Tinggi Dieng terus beralih fungsi
menjadi kebun kentang.
STRATEGI ADAPTASI
Pengembangan ekonomi di Dieng Jawa Tengah saat ini
tidak selaras dengan kondisi lingkungan yang ada. Untuk mencapai pengembangan
wilayah yang berkelanjutan, konsep Geopark diusulkan oleh 2 Kabupaten yang
berwenang atas wilayah Dataran Tinggi Dieng yaitu Kabupaten Banjarnegara dan
Wonosobo kepada provinsi yang berwenang yaitu Jawa Tengah agar dapat tetap
menjaga kondisi lingkungan di kawasan lindung sekaligus kawasan budidayanya.
Diharapkan dari penetapan geopark ini, masyarakat mempunyai pedoman dalam
mengembangkan kawasannya. Potensi keanekaragaman geologi, budaya, dan hayatinya
menjadi modal yang sangat tepat jika Kawasan Dieng di tetapkan menjadi Taman
Bumi. Fungsi Dataran Tinggi Dieng yang menjadi menara air (hulu DAS Serayu)
bagi Kawasan di bawahnya juga patut menjadi perhatian untuk dilindungi
kelestariannya. Pengusulan Geopark Dieng Jawa Tengah diringi dengan sosialisasi
kepada masyarakat, dan juga terdapat pelatihan untuk masyarakat terkait
pengelolaan Geopark. Aspiring Geopark Dieng Jawa Tengah merupakan langkah besar
untuk menjaga kelestarian warisan geologi dan lingkungan baik secara regulasi
dan juga sosial.
