Published on 6 September 2022, 13:14 by Melani Prisccilia Mokonio on Information
“Selama ini kita cenderung
fokus pada eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan” ujar Yahya
Rahmana Hidayat, Direktur
Sumber Daya Energi Mineral Pertambangan Bappenas .
Karena itu, merancang sebuah wilayah yang memiliki kekayaan
keanekaragaman hayati menjadi sebuah taman bumi atau geopark adalah hal bisa
menghindari eksploitasi sumber daya alam. Geopark menurut Yahya Rahmana Hidaya
, bertujuan konservasi, edukasi dan pengembangan ekonomi masyarakat. Selain itu
juga status sebuah wilayah sebagai taman bumi atau geopark akan
membuat segala bentuk pengelolaan sumber daya alamnya akan lebih berhati-hati.
Di Indonesia saat ini ada 13 wilayah yang berstatus Geopark
Nasional, 6 berstatus UNESCO Global Geopark. Saat ini 24
kawasan sedang mengajukan status Geopark. Danau Poso di Kabupaten Poso, masih
sedang merancang jalan untuk bisa mengajukan status Geopark. Peraturan Presiden
tentang no.9 tahun 2019 tentang pengembangan taman bumi atau geopark
menyebutkan wilayah geopark adalah wilayah geografi tunggal atau gabungan yang
memiliki situs warisan geologi ( geosite ) dan
bentang alam yang bernilai, terkait aspek warisan geologi ( geoheritage ),
keragaman geologi ( geodiversity ), keanekaragaman
hayati ( biodiversity ), dan keragaman budaya ( cultural diversity ).
Lalu apa yang dimiliki oleh danau Poso?
Diskusi terfokus online di hari Jumat 30 April 2021 , dengan
tema geopark danau Poso, danau purba dengan keanekaragaman hayati di jantung
Sulawesi , membincangkannya.
Geodiversity Danau
Poso
Danau Poso yang terbentuk dari proses tektonik sekitar 3 juta
tahun lalu adalah sebuah laut sempit yang menghubungkan teluk Tomini dengan
Teluk Bone. Proses pengangkatan menjadi daratan ini dapat dengan mudah
ditemukan bukti geologinya, antara lain temuan kerang di atas bukit Lebanu,
desa Watuawu, Kecamatan Lage. Dalam Ekspedisi Poso tahun 2019, tim geologi juga
menemukan ada bukti
proses pengangkatan yang terjadi di tepi danau Poso , tepatnya di tebing dekat
jembatan Petirodongi. Di tebing Petirodongi, terdapat singkapan
batuan yang merupakan hasil pengangkatan pegunungan Pompangeo. Batuan ini
dipotong oleh sesar, yang menunjukkan bahwa sejak dahulu kala pembentukan Pulau
Sulawesi erat kaitannya dengan proses tektonik yang menghasilkan sesar dan
gempa.
Geolog, Abang Mansyursyah Surya Nugraha mengatakan, masih
sedikit yang mengetahui bahwa terbentuknya Sulawesi diakibatkan oleh tabrakan
antar lempeng atau kontinen mikro. Hal ini dibuktikan dengan adanya batuan
Sekis Biru yang tersingkap di pinggir jalan antara Kuku-Panjoka. Situs Sekis
Biru ini hanya dapat dijumpai di beberapa daerah di Indonesia seperti situs
geologi Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah dan kompleks Bantimala di Sulawesi
Selatan. Batuan Sekis Biru dan batuan Sekis Hijau hanya
ditemukan di kedalaman zona subduksi atau lebih dikenal dengan sebutan
mega-trust.
Bukti geologi ini penting
untuk untuk dijaga kelestariannya agar tidak dirusak atau dihilangkan.
Menariknya, proses geologi jutaan tahun lalu yang terjadi di
Poso ini sudah diceritakan secara turun temurun. Di desa Peura ada laulita
(dongeng) tentang ayam ajaib yang mengisahkan terangkatnya laut menjadi
daratan.
Kekayaan geologi Poso ini membuat Ketua Pusat Penelitian Geopark
dan Kebencanaan Geologi Universitas Padjajaran, Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana,
berpendapat, kekayaan geologi di sekitar Danau Poso sudah mendukung untuk
diajukan menjadi kawasan Geopark. Hal itu diungkapkannya dalam acara Poso Tectonic
Lake Virtual Geotour di Geotourism Festival 2020.
Biodiversity /
Keanekaragaman Danau Poso
Danau Poso memiliki keanekaragaman hayati endemik yang
menjadikannya salah satu lokasi laboratorium alam. Sejauh ini terdapat 50 jenis
spesies biota endemik Danau Poso yang telah berhasil dideskripsikan. 11
spesies ikan, 11 spesies Crustacea (udang), 2 spesies kepiting, 25 spesies
gastropoda (siput) dan 1 spesies bivalvia (kerang). Data terbaru pada 4 Januari
2021 adalah publikasi naturalis Werner Klotz dan kawan kawan yang mendeskripsikan
5 spesies baru udang endemik Danau Poso.
Masapi, atau ikan sidat menjadi salah satu alasan mengapa danau
Poso menjadi satu dari 15 danau prioritas di Indonesia. Terdapat 5 Jenis sidat
yang hidup di daerah aliran sungai Poso dari 18 jenis Ikan sidat yang ada di
dunia, yaitu Anguilla marmorata,
Anguilla bicolor pasific, Anguilla celebesensis, Anguilla borneensis dan Anguilla interioris.
Uniknya, sidat dewasa yaitu Anguilla
marmorata dan Anguilla bicolor
pasific beruaya ke laut dalam ( teluk Tomini ) untuk memijah, lalu
anak-anaknya (glass eel) kemudian kembali ke air tawar, berenang dari kedalaman
laut menuju ke sungai hingga kembali ke danau Poso. Sejak 5 tahun terakhir,
jalur pulang anak ikan sidat ke danau terhalang bendungan PLTA Poso I. Upaya
membuat jalur khusus atau fish way oleh
PT Poso Energy masih dipertanyakan efektifitasnya.
Kekayaan biota ini juga menjadikan danau Poso sebagai
laboratorium penelitian dunia yang menjadi salah satu pusat studi kehidupan
biota air tawar . Namun, Dr. Fadly Y. Tantu, akademisi Universitas Tadulako
mengingatkan kehidupan ikan-ikan endemik itu kini dalam ancaman dari masuknya
ikan-ikan dari
tempat lain baik lewat program pemerintah dimasa lalu, maupun yang sengaja
dilepas oleh pihak-pihak tertentu.
Keragaman Budaya Danau Poso
Danau Poso menyimpan sejarah masa lalu nenek moyang orang Poso
yang mula-mula mendiami pinggir danau. Ini bisa dilihat disepanjang pinggir
sungai hingga ke danau. Watu mPogaa, misalnya. Menhir yang sampai kini bisa
dilihat di halaman Gereja Bethel Pamona, kelurahan Pamona, menceritakan
persebaran leluhur orang Pamona ke 7 penjuru.
Bukti danau Poso kemungkinan telah dihuni oleh manusia sejak
ribuan tahun lalu juga bisa dilacak dari sisi arkeologi. Tinggalan seperti Watu
mPogaa setidaknya memberikan gambaran itu. Apalagi lembah Lore tempat
berkembangnya kebudayaan megalitikum sekitar 3 ribu tahun lalu, secara
geografis sangat dekat dengan danau Poso .
Sebagai catatan, berdasarkan data BPCB Gorontalo tahun 2014.
Dari 87 situs yang dilindungi di kabupaten Poso, 10 situs ada di kecamatan
Pamona Puselemba yang berada dekat danau Poso yakni : Gua Pamona, Rumah AC
Kruyt, Ue Datu, Menhir Pamona / Watumponga’a, Ceruk Latea 1 dan Gua Latea,
Ceruk Tangkaboba, Arca Kerbau Peura, Gua Tangkaboba, Watu mPangasa Angga, Watu
Rumongi.
Sebenarnya jumlah situs bersejarah di pinggiran danau Poso masih
banyak. Dalam perjalanan Ekspedisi Poso tahun 2019 dan 2021, Arkeolog Iksam
Djorimi mencatat, selain situs yang sudah didata oleh BPCB, masih ada 19 situs
yang penting dalam sejarah peradaban di danau Poso. Namun situs-situs ini belum
terdaftar didalam peta sistem registrasi nasional cagar budaya. Situs-situs di
pinggir danau Poso yang belum terdaftar di sistem registrasi nasional cagar
budaya , antara lain : Tando
Bancea, desa Bancea; Ngoyontava,
Makilo, desa Boe; Bukit
Lamusa, desa Korobono; Gua Tangkadao; Wawondoda I; Wawondoda II; Gua Kandela I;
Gua Kandela II; Watu mPogaa, kelurahan Pamona; Posunga Kodi, kelurahan Pamona;
Posunga Bangke, kelurahan Pamona; Gua Tonoha; Gua Labu I; Gua Labu II; Gua
Torau 1 ; Gua Torau II; Gua Torau III; Gua Torau IV.
Bukan hanya agar para nelayan dan petani bisa terus memanfaatkan
danau. Kebudayaan yang ada di pinggir danau lebih terjaga jika status Taman
Bumi dilekatkan. Iksam Djorimi mengatakan, berdasarkan UU no 11 tahun 2010, pasal
3 menyebutkan, tujuan pelestarian cagar budaya adalah melestarikan budaya
bangsa dan warisan umat manusa. Selain itu, meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Herry Yogaswara, peneliti ekologi manusia yang
juga Kepala LIPI bidang kependudukan mengatakan, kebudayaan masyarakat
dipinggir danau Poso selalu berhubungan dengan air tawar. Geopark menurut Herry
dapat menjadi cara mengembangkan pariwisata wisata alam yang lebih bersih,
aman, sehat dan melestarikan lingkungan hidup. Ketimbang pariwisata yang mengutamakan
pembangunan fisik yang justru merubah alam.
——
Danau Poso menuju untuk taman bumi adalah sebuah langkah
perlindungan keunikan situs geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya
yang terdapat dalam satu kawasan. Penetapan geopark danau Poso juga berfungsi untuk
penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam konteks
pariwisata , taman bumi atau geopark danau Poso akan mengembangkan bentuk
wisata seperti geowisata, wisata alam, wisata minat khusus, dan ekowisata untuk
perkembangan ekonomi secara berkelanjutan.
Danau Poso sebagai sebuah kehidupan , yang selama ini dipercayai
dan dilakoni oleh masyarakat pada akhirnya memiliki ruang pemberdayaan
masyarakat untuk kehidupan berkelanjutan.