Mengulas Ancaman Bencana Banjir, Tanah Longsor, Dan Angin Ribut Terhadap Kawasan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong

Published on 11 August 2022, 22:32 by Iqbal Fuady Ahmad Lathif on Information

post-thumb

                Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong (GNKK) secara administratif terletak di Kabupaten Kebumen yang termasuk dalam kawasan Pegunungan Serayu Selatan. Hal ini tidak hanya membuat kawasan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong memiliki kekayaan dan keindahan alam yang mempesona, tetapi juga menyimpan kerawanan bencana yang perlu diwaspadai. Pegunungan Serayu Selatan terbentuk dari proses subduksi antara lempeng Eurasia dengan lempeng Indo-Australia. Proses subduksi ini menyebabkan terbentuknya morfologi pegunungan dan lembah-lembah yang membentuk sungai. Selain itu,  banyak struktur geologi yang berkembang di kawasan GNKK. Hal ini dapat menjadi potensi bencana geologi seperti tanah longsor, banjir, gempa bumi, dan tsunami.


    Peta persebaran geosite pada kawasan rawan bencana GNKK (sumber: BAPPEDA Kab. Kebumen)

Belum lama ini, tepatnya pada bulan Maret tahun 2022, Kabupaten Kebumen dilanda bencana banjir, tanah longsor, dan angin ribut di sejumlah wilayah. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kebumen banjir merendam 51 desa di 18 kecamatan dengan ketinggian air sekitar 20-150 cm. Adapun bencana longsor terjadi di 18 desa dan angin kencang disertai hujan membuat 1 rumah warga di Kecamatan Petanahan ambruk. Bencana ini memaksa 1.293 orang mengungsi dan menyebabkan puluhan rumah warga serta fasilitas umum rusak. Akibatnya, hewan ternak dan hasil pertanian hancur serta menimbulkan satu korban jiwa.

Bencana banjir, tanah longsor dan angin ribut dipicu oleh cuaca ekstrem yaitu hujan lebat yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini berakibat pada meningkatnya volume air sungai sehingga menyebabkan tanggul jebol di beberapa wilayah. Adapun menurut buku panduan tanggap bencana BNPB tahun 2012 bencana banjir disebabkan oleh angka curah hujan yang tinggi, ketika terjadi hujan ekstrem kemampuan sungai atau daya tampung sungai untuk mengalirkan air ke samudera lebih kecil dibandingkan dengan tingginya curah hujan yang terjadi, maka akan terjadi air menggenang yang disebut dengan banjir.

Tidak hanya faktor hidrometeorologi yang mempengaruhi terjadinya bencana alam ini. Alhasanah (2006) dalam Danil (2008) menyebutkan bahwa faktor penyebab tanah longsor secara alamiah yaitu morfologi permukaan bumi, penggunaan lahan, litologi, struktur geologi, dan kegempaan. Sementara berdasarkan metode pendeteksi longsor yang dikeluarkan DVMBG, faktor yang mempengaruhi longsor ialah curah hujan, geologi, jenis tanah, penggunaan lahan, dan kemiringan lereng. Angin ribut sendiri terbentuk dari perbedaan tekanan udara yang besar dan dapat dihasilkan dari awan cumulonimbus.

Kawasan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong sendiri tak luput dari terjangan bencana alam tersebut. Terdapat banyak situs geologi, situs biologi, dan situs budaya di kawasan GNKK yang harus dijaga baik keberadaannya maupun kondisinya. Bencana alam yang ada tentunya menjadi ancaman karena dapat merusak dan membahayakan kondisi situs-situs yang ada di GNKK. Situs geologi terdapat di banyak wilayah dengan morfologi pegunungan yang memiliki kemiringan tajam sehingga berpotensi longsor dan menyebabkan rusaknya singkapan geologi yang ada. Selain itu, situs biologi atau keanekaragaman hayati yang terkena banjir akan menyebabkan tanaman yang dikonservasi terendam air. Jika banjir terjadi dalam jangka waktu yang lama maka akan menyebabkan tanaman rusak atau mati. Bencana longsor dan angin kencang juga dapat merusak ekosistem dari biodiversitas yang ada di kawasan GNKK sehingga menyebabkan pohon tumbang dan satwa banyak kehilangan tempat tinggalnya. Serupa halnya dengan situs budaya berupa cagar budaya yang harus dijaga dan diminimalisasi dampak kerusakan dari bencana yang terjadi.

Lantas bagaimana upaya pencegahan dan mitigasi bencana yang dapat dilakukan kedepannya di Kabupaten Kebumen khususnya kawasan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong? Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan untuk mencegah bencana banjir dan tanah longsor yaitu dengan melakukan pemetaan kawasan rawan bencana dengan  pengolahan data pada Software GIS atau Sistem Informasi Geografis untuk memetakan luasan wilayah yang memiliki potensi kerawanan bencana. Parameter yang dapat digunakan untuk membuat peta daerah rawan banjir yaitu infiltrasi tanah, curah hujan, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan dengan menggunakan metode tumpang susun. Sementara untuk tanah longsor dapat dilakukan analisis terhadap persentase kelerengan kemudian dilakukan pengklasifikasian potensi longsor yang dapat terjadi.  Pembuatan peta rawan bencana ini dapat menjadi dasar untuk pemerintah daerah lebih memperhatikan dan mempersiapkan dalam upaya mitigasi atau pun evakuasi di daerah tersebut. Selain itu, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan jika ingin melakukan pembangunan di wilayah rawan bencana.  Peta rawan bencana ini diharapkan dapat terus diperbaharui karena pembangunan yang terus meningkat dan supaya data yang diberikan semakin akurat.

Upaya mitigasi bencana lainnya yang dapat dilakukan seperti normalisasi sungai dan pengerukan sedimen sungai supaya sungai dapat berfungsi dengan baik. Selain itu juga harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama pada daerah aliran sungai sehingga aliran sungai dapat berjalan lancar dan tidak mudah meluap maupun jebol. Tanggul-tanggul sungai yang mulai longsor atau sudah rusak dilakukan perbaikan, perawatan dan pengecekan secara berkala. Penanaman pohon di sejumlah wilayah yang rawan longsor serta dapat membuat penahan pada tebing atau lereng di pinggir jalan yang rawan longsor supaya tidak membahayakan bagi pengguna jalan yang melintas. Pembangunan kawasan hunian juga perlu diatur supaya tercipta tata ruang kota yang baik dan menghindarkan masyarakat dari dampak bencana alam.

         Membangun kesadaran, kewaspadaan, kesiapsiagaan bencana menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Dengan memiliki kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan bencana bukan tidak mungkin untuk meminimalisir dampak kerusakan dan korban dari bencana. Oleh karena itu, selalu waspada, saling mengingatkan, dan mengabarkan informasi-informasi peringatan bencana yang mungkin disampaikan oleh instansi terkait.

 

Penulis: Iqbal Fuady dan Hikmatul Nur Afifah


Card image cap
The Way Of Water - Youth Initiatives For Island Geoparks
Published on 7 June 2023, 18:23 by Immanuel Deo Silalahi on News
Card image cap
6th International Summer University Of The UNESCO Chair Of "Geoparks, Sustainable Regional Development And Healthy Lifestyles"
Published on 20 July 2022, 21:15 by Immanuel Deo Silalahi on Information
Card image cap
Geopark Game- The Lost Collection The Hondsrug UNESCO Global Geopark
Published on 31 August 2022, 01:18 by Sophie Van Rossem on News